Setiap manusia pada hakikatnya mencintai dan menyenangi yang indah dan keindahan. Ia juga ingin mencintai dan menyenangi kebaikan serta ingin berbuat baik. Cinta dan benci adalah esensialisasi pembawaan hidup manusia. Cinta adalah rahasia hati. Tak seorang pun yang tahu kecuali dia sendiri dan Allah SWT. Menyalahkan hanya akan membuang waktu kita, sebesar apapun kesalahan yang kita timpakan ke orang lain, dan sebesar apapun kita menyalahkan itu tidak akan mengubah dengan apa yang terjadi saat ini.
Begitu juga Hanum, dengan langkah berat dia berjalan menyusuri mulut gang menuju rumahnya selepas mengajar ngaji dari sebuah pondok pesantren. Sepasang matanya bergerak mengikuti langkah beberapa anak yang tengah berlarian menuju rumah mereka masing-masing. Baginya senja adalah roman kebahagiaan dengan harapan yang telah terangkai sepanjang bentangan matahari. Sebuah anugerah Allah, bisa belajar agama dan Alquran. Siapa tahu umur kita tak sampai dewasa maka penyesalan pun akan tiada berguna.
Hanum seorang gadis berhidung mancung, alis tebal dengan mata bulat seperti rembulan malam berselimut misteri yang tak mampu didefinisikan. Tatapanya yang membius mampu menghipnotis orang-orang di sekitarnya. Keramahanya membuat sebagian orang terpesona dengan polesaan senyum manis tak ubahnya seperti partikel magnet yang selalu membuat para santri ingin mendekat.
Sejak lulus dari Madrasah Tsanawiyah Hanum mondok sebagai santri kalong di Pesantren Al-Ihya. Gadis beralis tebal itu mencari ketenangan dengan dekat pa kiai serta para santri serasa nyaman dan damai. Ia selalu berdoa mudah-mudahan keluarganya tetap berpandu pada prinsif tauhid yang benar sehingga mereka terlepas dari ambisi yang menghanyutkan. Hanum menghela napas panjang perlahan mendekati beranda rumah.
“Sudah lima belas tahun aku menikmati alam semesta,” gumamnya pelan seraya duduk di beranda rumah.
Malam kembali datang sebuah rumah dengan desain sederhana dan tak terlalu membutuhkan banyak bahan membuatnya, terlihat rapi dan bersih meskipun tidak terlalu luas. Beberapa minggu ini ia terjebak dalam kebosanan, berat yang melelahkan pikirannya. Hanum merasa tak seorang pun dapat memahaminya, selama ini ia mengalami kesulitan untuk berbagi cerita dan mengalami kebuntuan.
Dalam menikmati liku-liku kehidupan ini dibutuhkan rasa sabar, keikhlasan dan semangat yang kuat. Hidup tak selalu berjalan mulus sesuai keinginan, ada kalanya kita merasa kecewa dan sedih. Bagaimana tidak memegang kening jika kemudian yang terjadi adalah sederet penderitaan yang berkepanjangan.
Hanum kini melanjutkan sekolah di MA Al-Ikhsan sambil mondok. Namun Supri hanya seorang buruh petani yang identik dengan orang miskin, dimana mana yang namanya pekerjaan di bawah terik matahari yang begitu panasnya, membuat kulit kepala tersengat dan gatal tentu orang miskin, namun itu bukan permintaan kita dilahirkan dan tumbuh dengan kondisi demikian. Jika itu telah menjadi takdir apa harus kita menolak, harus kita protes, harus kita berteriak sekuat-kuatnya … tentu tidak kan? rezekinya adalah kebun satu-satunya. Bagi seorang petani hari ini bisa makan saja sudah alhamdulillah.
Bapak hanum tampak mendesah panjang. Ia mengamati anaknya yang sedang melipat baju setelah melaksanakan salat Isya.
“Bapak tidak ingin kamu jadi petani, kalau bisa kau kuliah, Nak!” kata lelaki paruh baya sambil mengelus rambut Hanum.
“Itu nanti Pak, InsyaAllah sekarang ingin membantu keluarga sebisa mungkin.” Hanum berkata sambil merapikan baju.
Supri hanya terdiam mendengar jawaban sang anak yang datar. Kembali hening melanda. Kini Ningsih merasa bingung. Semua pangkal persoalan adalah uang.
Semua terdiam tak bersuara hanya terdengar gemerisik angin menyeret dedaunan basah semua berjalan damai, menurut sunatullah masing-masing. Tetes-tetes air yang beradu di ember seirama dengan guntur di luar membuat suasana syahdu mengantarkan Hanum masuk kedalam kamar meninggalkan kedua orangtuanya yang tanpa suara
.Antara matahari dan hujan itulah kehidupan hanum, Antara kepastian dan kemungkinan itu ibarat dua sisi uang koin. Seperti dua sisi tangan, atas dan bawah. Dia adalah Matahari. Dia tidak berpikir untuk meredup sekalipun karena ada sosok penting yang harus ia sinari. Yaitu kedua orang tuanya.
Hujan di luar masih deras, kilat sekali-kali menyalakan perkampungan Buniseuri yang tersapu hujan. Hanum masih melamun bercengkerama dengan pekat malam pada cahaya remang bulan. Dengan menjadi santri kalong seolah-olah dia menemukan kawasan yang sangat menenteramkan. Anak-anak santri bukan hanya menjadi literatur pribadinya. Akan tetapi, ia merasa telah menyatu dengan dunia mereka.
Pesantren Al-Ihya yang akan menjadi tempat Hanum mengabdikan diri setelah ia lulus dari Madrasah Aliyah, perjalanan panjang senantiasa mendapatkan rahmat dan berkah meskipun mendapatkan tentangan dari orangtua. Namun tidak menyurutkan semangat pengabdian di ponpes.
Matanya yang berkaca-kaca teringat akan perjalanan hidupnya yang sedang Allah uji, kalau tidak ada kekuatan iman, ia mungkin memilih sirna dari alam semesta. Ujian yang ia derita sangat berbeda dengan orang-orang seusianya. Setiap kali bermunajat kepada sang pencipta, ia menangisi takdir yang belum juga berubah nasib keluarganya adalah jalanan terjal yang menguji kesabaran membuat menderita batin yang cukup dalam.
Penderitaan orang tua masih sangat panjang dan berat harus menghidupi anak-anaknya. Hanum berjanji akan membalas budi baik mereka. Mendoakan kebaikan-kebaikan yang melimpah. Berbuat baik kepada kedua orang tua itu lebih utama daripada shalat, sedekah, puasa, haji, umrah, dan berjihad di jalan Allah.” (HR Thabrani).
Kontributor : Irma Heryani, M.Pd






Pelangi muncul ketika hujan reda dan matahari setia bersinar. Nikmati apapun keadaannya… keindahan seseorang akan berberda. Menyikapi keaadaan dengan rasa ikhlas dan ridha akan muncul keindahan. Abaikan perasaan yang membebani