Puasa

Shaum (puasa) secara bahasa bermakna imsak (menahan) dan secara syar’i bermakna menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan (puasa) mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari yang disertai dengan niat. Sedangkan secara terminologis, menurut Sayyid Muhammad Sayyid Thantawiy, puasa adalah menahan dan menjauhkan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, dari terbit fajar hingga terbenam matahari dengan disertai nial (al-Fiqh al-Muyassar; 170). Dari beberapa definisi dapat ditarik pengertian umum puasa yaitu ibadah yang diperintahkan Allah kepada hambanya yang beriman dengan cara mengendalikan diri dari syawat makan, minum, berhubungan badan serta perbuatan-perbuatan yang merusak puasa pada waktu siang hari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Puasa dalam arti menahan diri dari segala yang membatalkan dan merusak nilai puasa menurut imam al-Ghazali dibagi kepada tiga tingkatan :
  1. Puasa Umum, adalah puasa dengan hanya menahan diri dari makan dan minum serta hubungan seksual saja.
  2. Puasa Khusus, adalah puasa disamping pengertian puasa umum di atas ditambah mengendalikan diri dari perkataan, pandangan, penglihatan, dan perbuatan anggota tubuh yang cenderung kepada yang tidak baik.
  3. Puasa Khawas al-khawash, adalah di samping pengertian kedua tingkatan puasa di atas, ditambah dengan puasa hati atau menahan hati dari segala keinginan dan pemikiran keduniaan.
Tujuan puasa adalah untuk membersihkan jiwa manusia baik dari sifat-sifat tercela maupun dari dosa-dosa yang telah dilakukan. Dalam tujuan ini puasa mirip seperti zakat yang berfungsi membersihkan harta manusia. Karena itu Rasullah sendiri mengatakan bahwa puasa adalah zakat badan manusia, sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Tiap-tiap sesuatu ada zakatnya dan zakat jasad adalah puasa” (HR. Ibnu Majah). Puasa merupakan ibada yang pahalanya hanya Allah yang tahu, berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya yang seringkali Alah SWT menyebutkan jumlah pahalanya. Dalam puasa Allah SWT mengatakan bahwa Allah sendiri yang akan membalas pahala orang-orang yang berpuasa. Rasulullah SAW bersabda, Allah SWT berfirman “Semua amal manusia adalah bagi manusia itu sendiri kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-ku dan hanya Aku yang dapat menilainya.” (HR. Muttafaq’alaih). Orang yang berpuasa akan diistimewakan oleh Allah SWT di Aakhirat kelak, karena Allah mempersiapkan pintu khusus, yaitu Rayyan bagi orang-orang yang berpuasa untuk masuk surga. Selamat menunaikan ibada puasa, semoga kita diberikan kekuatan dan mampu menunaikan segala amalan kebaikan Ramadhan dan kita digolongkan menjadi manusia bertaqwa. Amiin.   Disadur dari Babin Rohis Ditjen Pendis

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *